JAKARTA — Komunitas Joy of Discovery (JOD) meluncurkan website barunya pada Rabu, 30 September 2026, bertepatan dengan Peringatan Wajib Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja. Acara berlangsung di Ruang Petrus dan Andreas, Lantai 2 Gedung Karya Pastoral Gereja St. Theresia Menteng, Jakarta.
Peluncuran ini bukan sekadar peresmian sebuah media digital. Bagi JOD, website menjadi bagian dari perjalanan pewartaan yang terus berkembang sejak komunitas ini mulai pada tahun 2008. Semangatnya tetap sama: membantu umat mengalami sukacita dalam membaca, menggali, memahami, dan menemukan Tuhan melalui Sabda-Nya.
Dalam pengantarnya, Pak Bayu, Wakil Ketua JOD, mengaitkan peluncuran website ini dengan sosok Santo Hieronimus, yang diperingati Gereja setiap 30 September. Santo Hieronimus dikenal sebagai imam dan pujangga Gereja yang menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin, yang kemudian dikenal sebagai Vulgata. Kata vulgata menunjuk pada sesuatu yang tersebar luas atau diterima secara umum, dan terjemahan Santo Hieronimus kemudian digunakan secara luas dalam kehidupan Gereja.
Pak Bayu juga menyampaikan bahwa mulai tahun ini, 30 September akan dirayakan sebagai hari ulang tahun Joy of Discovery. Pemilihan tanggal ini memiliki makna khusus, karena semangat Santo Hieronimus dirasakan sangat dekat dengan panggilan JOD: mencintai Kitab Suci, menekuninya, dan membuat Sabda Tuhan semakin dapat dijangkau oleh banyak orang.
Semangat itulah yang diharapkan menjiwai perjalanan JOD ke depan. Kehadiran JOD, termasuk melalui website yang baru diluncurkan, diharapkan tidak berhenti hanya untuk komunitas sendiri, tetapi semakin terbuka, dikenal, diterima, dan terutama bermanfaat bagi semakin banyak orang.
Jika pada zamannya Santo Hieronimus membantu menghadirkan Sabda Tuhan agar semakin luas dijangkau, maka pada zaman digital ini JOD juga dipanggil menggunakan sarana yang tersedia agar semakin banyak orang dapat mengenal, mencintai, dan menemukan sukacita dalam Sabda Tuhan.
Pak Bayu menegaskan bahwa kehadiran di ruang digital bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Di baliknya terdapat panggilan pewartaan yang diringkas dalam perkataan Santo Paulus, “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil.” Sabda yang telah ditemukan dan dialami tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri. Sukacita menemukan Sabda justru memperoleh maknanya ketika dibagikan.
Website JOD kini hadir dengan berbagai isi seperti renungan, artikel, berita kegiatan, informasi komunitas, serta sarana untuk mendaftar Kursus Joy of Discovery. Ke depan, pewartaan juga diharapkan berkembang melalui Instagram, Threads, X, YouTube, serta renungan mingguan dalam bentuk tulisan maupun podcast.
Melintasi Batas dan Sekat
Dalam sekapur sirihnya, Romo Benny mengajak seluruh anggota JOD untuk menimba semangat dari Santo Hieronimus. Ketekunan Santo Hieronimus dalam mencintai, mempelajari, dan mewartakan Kitab Suci hendaknya juga menjadi semangat komunitas dalam menjalankan panggilannya.
Romo Benny kemudian menyoroti salah satu kekuatan penting sebuah website: dapat diakses siapa saja, kapan saja, dan dari mana saja.
Dengan hadirnya website, JOD tidak lagi dibatasi oleh ruang fisik sebuah paroki. Dalam arti tertentu, JOD mulai melintasi batas dan sekat.
Hal ini sebenarnya sudah mulai tampak dalam perjalanan komunitas. Kursus JOD kini dapat diikuti secara online, sehingga pesertanya tidak hanya berasal dari umat Paroki St. Theresia Menteng. JOD juga telah berjalan di Paroki BMV Katedral Bogor, dan kini sedang dipersiapkan untuk dibuka di Paroki Blok Q.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pewartaan Sabda tidak harus berhenti pada batas geografis sebuah komunitas. Media digital memungkinkan seseorang yang berada jauh dari tempat lahirnya JOD tetap belajar, bertumbuh, dan mengalami sukacita menemukan Sabda Tuhan.
Bukan Hanya Meluncurkan, tetapi Memelihara
Romo Benny juga memberikan pesan yang sangat konkret. Meluncurkan sesuatu relatif mudah. Yang jauh lebih sulit adalah menjaga, memperbarui, dan memeliharanya.
Menjelang sebuah peluncuran, semangat biasanya sedang tinggi. Banyak orang terlibat, ide bermunculan, dan energi terasa besar. Tantangannya justru datang setelah acara selesai: apakah website tetap diperbarui? Apakah renungan terus hadir? Apakah berita kegiatan tetap ditulis? Apakah semangat awal itu masih menyala beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian?
Pesan
tersebut menjadi pengingat bahwa website JOD tidak boleh berubah menjadi sekadar “monumen digital” yang pernah diluncurkan, tetapi kemudian ditinggalkan. Ia harus menjadi ruang yang hidup, karena pewartaan sendiri adalah pekerjaan yang terus berlangsung.
Setelah sekapur sirih, Romo Benny memimpin doa sebelum pemberkatan, dilanjutkan dengan pemberkatan dan peluncuran website secara resmi. Acara kemudian diteruskan dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua JOD, Ibu Otty, yang diberikan kepada Romo Benny, foto bersama, ramah tamah, makan tumpeng, sharing, dan menyanyi bersama.
Peluncuran website pada akhirnya hanyalah sebuah awal.
Yang jauh lebih penting adalah apa yang akan terjadi sesudahnya: apakah semakin banyak orang tertarik membuka Kitab Suci, apakah Sabda Tuhan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan apakah mereka yang telah menemukan sukacita dalam Sabda juga terdorong membagikannya kepada sesama.
Di situlah website JOD menemukan maknanya yang sebenarnya: bukan sekadar halaman di internet, tetapi salah satu jalan agar Sabda Tuhan dapat melintasi ruang, waktu, dan sekat, lalu menjumpai semakin banyak orang.