Usai Misa pukul 11.00 di Paroki Katedral Jakarta, yang paling lama saya pandangi justru tempat sampah. Sambil menunggu jemputan Gojek, perhatian saya tertahan pada dua anak muda yang berdiri di dekatnya. Bukan sekadar menunggu orang datang membuang sampah, mereka lebih dulu menyapa umat yang lewat, mengajak dengan ramah untuk memilah sampah, lalu menunjukkan tempat yang sesuai untuk setiap jenis sampah.
Karena penasaran, saya pun menghampiri mereka. Iseng-iseng saya ajak ngobrol sebentar di sela-sela umat yang mulai beranjak pulang. Barulah saya tahu, keduanya anggota Orang Muda Katolik (OMK). Hari itu mereka mendapat tugas berjaga di dekat tempat sampah seusai Misa, sebuah tugas yang mungkin tampak kecil, tetapi ternyata menyimpan pesan yang jauh lebih besar.
Baru kemudian saya melihat spanduk yang terbentang di sana. Dua kata tercetak besar: Pertobatan Ekologis. Seketika, apa yang dilakukan kedua anak muda itu terasa berbeda. Mereka bukan sekadar menjaga tempat sampah. Mereka sedang ikut menghidupi pertobatan ekologis dan mengajak umat memulainya dari tindakan yang sangat konkret: memilah sampah dengan benar.
Senang sekaligus bangga melihat anak-anak muda mengambil bagian dengan cara seperti ini. Dari mereka saya kembali diingatkan bahwa kepedulian terhadap bumi, rumah kita bersama, tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Pertobatan bisa tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan sadar dan terus-menerus.
Kadang-kadang, semuanya justru dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kita: sampah kita sendiri dan apa yang kita lakukan terhadapnya.
Melihat mereka, saya langsung teringat penggalan Mars ARDAS KAJ 2026:
“Marilah bergerak bersama, mencintai bumi rumah kita…”
Dan rupanya, “bergerak bersama” itu sudah dimulai, bukan hanya dari mimbar, tetapi juga dari tempat sampah.
Jakarta, 30 Agustus 2026