Bogor — Mempelajari Kitab Suci bukanlah semata-mata untuk memperoleh pengetahuan. Kesadaran inilah yang terus ditanamkan dalam Kursus Joy of Discovery (JOD). Peserta memang diajak membaca teks dengan teliti, memperhatikan struktur, dan mencari referensi. Namun, seluruh proses itu tidak boleh berhenti pada pengolahan kognisi. Sabda yang dipahami harus digumuli, diresapkan dalam hati, diinternalisasi, lalu menjadi hidup dalam sikap dan tindakan pribadi.
Keutuhan proses inilah yang menjadi roh pembelajaran JOD. Sejak awal, JOD dirancang sebagai metode pembelajaran Kitab Suci yang interaktif dan eksploratif agar peserta dapat menemukan sendiri makna dan pesan dalam teks yang dipelajari. Tujuannya bukan hanya meningkatkan minat membaca dan menelaah Kitab Suci, tetapi juga mengembangkan kemampuan refleksi serta penerapan ajaran Alkitab dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, tujuan mempelajari Kitab Suci pada akhirnya adalah transformasi diri.
Gagasan inilah yang hendak ditegaskan dalam penutupan Kursus JOD Angkatan III Paroki BMV Katedral Bogor. Rangkaian proses belajar ditutup dengan sebuah kegiatan yang disebut “selebrasi”. Namun selebrasi di sini tidak dimaknai sekadar sebagai perayaan berakhirnya sebuah kursus. Selebrasi justru harus menemukan maknanya sebagai selebrasi transformasi: merayakan Sabda yang telah dipelajari dan diharapkan mulai mengubah kehidupan.
Semangat transformasi tersebut kemudian diwujudkan melalui kegiatan berbagi bersama anak-anak Panti Asuhan Bhakti Kasih Abba pada 25 Juli 2026 lalu. Ekaristi, kebersamaan, dan karya kasih menjadi bagian dari penutupan kursus. Dengan cara itu, apa yang selama berbulan-bulan dipelajari di dalam kelas memperoleh kesempatan untuk menemukan wujudnya dalam perjumpaan dengan sesama.
Pesan yang sama ditegaskan oleh RD Albertus Aris Bangkit Sihotang dalam homilinya. Ia mengajak peserta merenungkan sebuah pertanyaan penting:
“Kelemahan kita sebagai manusia, sering kali kita sebatas mencapai pemahaman kognitif saja. Pertanyaannya, apakah pemahaman terhadap Kitab Suci tersebut sungguh mentransformasi hidup kita?”
Pertanyaan tersebut seakan merangkum seluruh proses JOD. Seseorang dapat mengetahui isi teks, menemukan struktur kalimat, memahami konteks, bahkan mampu menjelaskan suatu perikop dengan baik. Namun pertanyaan berikutnya jauh lebih mendasar: setelah mengetahui semuanya itu, apakah hidup kita berubah?
Karena itu, transformasi tidak cukup menjadi gagasan. Ia harus memperoleh bentuk nyata. Dalam selebrasi tersebut, semangat berbagi diwujudkan antara lain melalui bantuan kepada panti berupa uang tunai, 70 bingkisan, 146 pasang sandal, serta berbagai kebutuhan pokok.
Kursus boleh berakhir dan sertifikat boleh dibagikan, tetapi perjalanan bersama Sabda justru harus terus berlanjut. Sebab keberhasilan belajar Kitab Suci bukan terutama diukur dari banyaknya teks yang dipahami, melainkan dari sejauh mana Sabda itu mengubah kehidupan. Ketika Sabda tidak hanya dipahami oleh pikiran, tetapi diresapkan dalam hati dan diwujudkan dalam kasih, di situlah Sabda menjadi hidup. Dan di situlah selebrasi transformasi sesungguhnya terjadi. (FBR)