Kita hidup di zaman yang serba ingin memiliki. Jabatan di kantor dianggap milik pribadi, sehingga sulit dilepaskan. Pelayanan di paroki atau lingkungan pun kadang diperlakukan seperti “wilayah kekuasaan”. Siapa yang sudah lama memegangnya merasa paling senior dan berhak atas segala sesuatunya. Tanpa sadar, kita lupa bahwa semua itu hanyalah titipan.
Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur mengkritik sifat manusia yang selalu ingin memiliki sesuatu yang bukan menjadi haknya. Yesus mengisahkannya di Bait Allah, di hadapan imam-imam kepala dan tua-tua bangsa yang baru saja mempersoalkan kuasa-Nya (ayat 33). Pendengar Yahudi dapat mengenali kiasan yang tertulis pada Yesaya 5:1-7 : umat Israel yang dirawat Allah dengan penuh kasih dilambangkan dengan kebun anggur yang dipagari, dilengkapi tempat pemerasan dan menara jaga.
Pertama, perumpamaan ini memperlihatkan kesabaran Allah yang sungguh tidak masuk akal. Pemilik kebun sudah menyiapkan segalanya, lalu mempercayakan kebun itu kepada para penggarap. Ketika musim panen tiba, hamba-hambanya yang akan mengumpulkan hasil – dipukul, dibunuh, dan dilempari batu. Ia mengutus hamba lain yang lebih banyak, dan nasib mereka sama. Pemilik mana yang masih mau mengutus anaknya sendiri? Namun Allah berbuat demikian: “Anakku pasti mereka segani” (ayat 37). Para nabi telah diutus berulang kali, dan akhirnya Allah mengutus Putra-Nya sendiri.
Kedua, perumpamaan ini menyingkapkan akar dosa para penggarap: keinginan untuk menguasai. “Ia adalah ahli waris! Mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita” (ayat 38). Mereka lupa bahwa mereka hanyalah penggarap. Anak itu dilemparkan ke luar kebun lalu dibunuh (ayat 39), sebuah isyarat tentang Yesus yang disalibkan di luar tembok Yerusalem. Yang mengejutkan, para pemimpin itu tidak menyadari bahwa jawaban mereka atas pertanyaan Yesus sebenarnya adalah hukuman atas diri mereka sendiri : “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu”.
Akhirnya, Yesus menegaskan bahwa rencana Allah tidak dapat digagalkan oleh penolakan manusia. Yesus mengutip Mazmur 118 ayat 22 “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (ayat 42). Putra yang dibuang dan dibunuh itulah yang dibangkitkan Allah menjadi dasar umat yang baru. Kerajaan Allah akan diberikan kepada “suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu” (ayat 43).
Kata “hasil” dan “buah” muncul berulang kali dalam perikop ini (ay. 34, 41, 43). Allah tidak bertanya berapa lama kita sudah menjadi anggota Gereja, atau jabatan apa yang kita pegang. Ia bertanya: mana buahnya? Peringatan ini tidak hanya ditujukan kepada para pemimpin Yahudi dua ribu tahun lalu. Peringatan ini juga ditujukan kepada kita, umat yang kini dipercaya menggarap kebun-Nya.
Karena itu, marilah kita kembali menyadari diri sebagai penggarap, bukan pemilik. Hidup, keluarga, talenta, pekerjaan, pelayanan, bahkan bumi tempat kita tinggal adalah kebun anggur milik Tuhan. Semoga kita menyambut utusan-Nya dengan hati terbuka, melepaskan keinginan untuk menguasai, dan dengan setia menghasilkan buah kasih, keadilan, dan kebaikan bagi Sang Pemilik.