
Seorang buruh sedang bekerja di ladang yang bukan miliknya. Ia tidak mencari apa-apa. Namun, di tengah pekerjaan, ia menemukan sesuatu yang mengubah arah hidupnya. Menariknya, tindakan pertama yang dilakukan justru memendam kembali harta itu (ay. 44). Beberapa ayat kemudian, perikop ini ditutup dengan gerak sebaliknya: seorang tuan rumah mengeluarkan harta dari perbendaharaannya (ay. 52). Di antara dua gerak, memendam dan mengeluarkan, terbentang perjalanan seorang murid.
Matius 13 membawa kita dari ladang, ke dunia seorang pedagang mutiara, lalu ke tepi danau. Tempatnya berubah, tetapi pertanyaannya tetap sama: apa yang terjadi ketika seseorang sungguh mengenali nilai Kerajaan Allah?
Harta terpendam bukan gambaran asing bagi dunia kuno. Dalam masa perang atau ketidakamanan, orang dapat menguburkan barang berharganya agar tetap aman. Bila pemiliknya tidak kembali, harta itu dapat tetap tersembunyi sampai ditemukan orang lain. Yang mengejutkan justru reaksi penemunya: “oleh sebab sukacitanya” ia menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu. Pusat perumpamaan bukan pertama-tama kehilangan, melainkan sukacita karena menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Pedagang mutiara datang dari arah berbeda. Ia memang mencari. Sang buruh menemukan tanpa merencanakan; sang pedagang mutiara menemukan setelah pencarian. Kerajaan Allah dapat menjumpai kita ketika kita tekun mencari, tetapi juga di tengah pekerjaan, keluarga, kegagalan, atau peristiwa yang sama sekali tidak kita rencanakan.
Keduanya lalu melakukan hal yang sama: melepaskan banyak hal demi satu yang mereka yakini paling bernilai. Maka pertanyaan terdalamnya bukan hanya, “Apa yang harus saya korbankan?” melainkan, “Sudahkah saya sungguh melihat hartanya?” Dalam Matius 19, orang muda kaya juga diminta menjual miliknya, tetapi ia pergi dengan sedih. Penemu harta pergi dengan sukacita. Yang membedakan bukan hanya harga yang dibayar, tetapi apa yang sudah lebih dahulu dilihat.
Lalu Yesus membawa kita ke tepi danau. Sebuah jala besar menangkap ikan dari berbagai jenis. Perhatikan urutannya: jala dibiarkan penuh, ditarik ke pantai, barulah tangkapan dipisahkan. Seperti lalang dan gandum sebelumnya, masa sekarang adalah masa pengumpulan.
Yesus bahkan menyebut siapa yang kelak memisahkan: “malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar” (ay. 49). Jala itu tidak menyaring selama masih di tengah laut. Kita tetap memerlukan kebijaksanaan moral, tetapi penghakiman terakhir bukan pekerjaan kita. Di sinilah kita mudah tergelincir. Kita cepat memberi label: orang ini sulit, orang itu tidak berubah-ubah, yang lain rasanya tidak layak dipercaya lagi. Padahal Tuhan belum selesai bekerja.
Pekerjaan murid justru muncul pada ayat terakhir. Ahli Taurat yang telah menjadi murid Kerajaan Surga digambarkan seperti tuan rumah yang mengeluarkan dari perbendaharaannya harta yang baru dan yang lama. Kontrasnya tajam: malaikat memisahkan; murid mengeluarkan. Murid bukan penjaga gudang yang sibuk menentukan siapa boleh masuk. Ia menerima, menimbang, lalu membagikan harta yang telah dipercayakan kepadanya.
Karena itu Salomo dalam bacaan pertama terasa dekat. Ia tidak meminta kekayaan atau kemenangan, melainkan hati yang mampu mendengarkan dan membedakan. Kita pun membutuhkan hati seperti itu: tidak tergesa menyortir manusia, tetapi peka melihat apa yang sungguh bernilai dan apa yang perlu kita berikan.
“Membuka perbendaharaan” sering kali sangat sederhana. Dalam keluarga yang sedang tegang, mungkin harta itu berupa kesediaan mendengar sebelum menjawab. Dalam pelayanan, ketika seseorang menjauh, mungkin yang dibutuhkan bukan label baru, melainkan pintu yang tetap terbuka. Kadang harta yang sedang ditunggu orang lain adalah waktu, kesabaran, pengampunan, kebenaran, atau Sabda yang pernah lebih dahulu meneguhkan kita.
Buruh itu memendam harta hanya untuk sementara; murid pada akhir wejangan justru membuka perbendaharaannya. Itulah gerak kemuridan: menemukan, memilih, lalu membagikan. Kerajaan Allah terlalu berharga untuk disimpan sendiri, dan sesama terlalu berharga untuk kita hakimi sebelum waktunya. Selama jala Kerajaan masih mengumpulkan, murid Kristus dipanggil bukan untuk mengambil alih pekerjaan malaikat dengan memisahkan manusia, melainkan menjalankan pekerjaannya sendiri: membuka perbendaharaan dan membagikan harta Kerajaan.
Pertanyaan Refleksi
- Siapa yang tanpa sadar sudah saya “saring” lebih dahulu, padahal Tuhan sendiri masih memberi ruang baginya untuk bertumbuh?
- Harta apa dari perbendaharaan iman saya—waktu, kesabaran, pengampunan, kebenaran, atau Sabda—yang paling dibutuhkan seseorang di sekitar saya minggu ini?
Doa Penutup
Tuhan Yesus, bukalah mata kami untuk mengenali Kerajaan-Mu sebagai harta yang paling berharga. Bebaskan kami dari keinginan menghakimi sebelum waktunya. Bentuklah hati kami agar mampu mendengarkan, membedakan, dan membuka perbendaharaan yang Kaupercayakan kepada kami bagi sesama. Amin.