
Suatu hari, salah seorang bapak bercerita ke saya, kalau sudah berbulan-bulan bahkan lebih dari satu tahun, ia tidak berbicara dengan saudara iparnya. Dikarenakan setiap ngomong satu patah kata, dijawab dengan ribuan kata.
Awalnya hanya karena sebuah perkataan yang menyakitkan. Ia memilih diam. Saudaranya juga diam. Anehnya, semakin lama diam, semakin sulit untuk memulai percakapan. Mereka masih satu keluarga, tetapi hati mereka semakin jauh.
Bukankah sering kali kita juga demikian? Kita terluka, lalu memilih menjauh. Kita kecewa, terus membicarakan orang itu kepada orang lain.
Padahal Tuhan berkata dalam Injil:
“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” (Mat 18:15)
Ketika Yesus berkata, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia,” kata “tegurlah” tidak berarti kita boleh menegur dengan marah, mencela, atau menghakimi.
Menegur bukan berarti kita menempatkan diri sebagai orang yang lebih baik atau lebih suci. Kita juga tidak boleh menjadikan orang yang bersalah sebagai objek untuk dipermalukan atau dihukum.
Tujuan teguran justru adalah memenangkan kembali saudara yang tersesat. Karena itu, kata Yunani elegxon dapat dipahami sebagai “yakinkanlah dia” atau “bantulah dia menyadari kesalahannya.”
Artinya, kita menjelaskan dengan kasih apa yang menjadi kesalahannya, bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menyadarkannya. Kita berharap ia menyadari kesalahannya, bertobat, dan kembali menjadi bagian dari persekutuan sebagai saudara yang bertanggung jawab.
Apa maksudnya bagi saya?
Yesus tidak menyuruh saya membalas, mempermalukan, atau menggosipkan saudara yang bersalah. Saya justru diminta datang kepadanya. Teguran itu dilakukan karena kasih, dengan tujuan, seperti dikatakan Yesus, “engkau telah mendapatnya kembali.”
Jadi, ketika membaca ayat ini, saya tidak pertama-tama bertanya, “Siapa yang harus saya tegur?” Tetapi saya bertanya: “Apakah ada saudara yang sedang saya biarkan hilang dari hidup saya?”
Bacaan pertama dari Yehezkiel mengingatkan bahwa saya dipanggil menjadi penjaga bagi saudara saya. Saya tidak boleh diam ketika melihat sesuatu yang dapat menghancurkan kehidupan atau persaudaraan. Tetapi menjadi penjaga bukan berarti merasa paling benar. Saya harus berbicara dengan kasih.
Mazmur mengingatkan: “Janganlah bertegar hati.” Ini juga berlaku bagi saya. Saya bukan hanya harus berani menegur, tetapi juga harus rendah hati ketika saya sendiri ditegur.
Dan Paulus memberikan dasar semuanya: “Hendaklah kamu saling mengasihi.” Kasih tidak membiarkan saudara berjalan menuju kehancuran, tetapi juga tidak menggunakan kesalahan saudara sebagai kesempatan untuk menghakimi.
“Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:20).
Tuhan hadir ketika kita tidak sekadar berkumpul, tetapi sungguh menghadirkan kasih-Nya: berani menegur, mau mendengarkan, mengampuni, berdamai, dan memulihkan.
Refleksi bagi saya: Mungkin hari ini Tuhan meminta saya mengambil satu langkah kepada seseorang yang sedang jauh dari saya. Bukan untuk memenangkan pertengkaran, tetapi untuk mendapatkan kembali seorang saudara.
Allah Bapa yang mahakasih, Puji dan syukur aku ucapkan atas berkat dan karunia yang telah aku terima sampai saat ini. Bapa, lembutkan hatiku. Beri aku keberanian untuk berbicara dengan kasih, kerendahan hati untuk menerima teguran, dan hati yang siap mengampuni. Semoga dalam setiap relasi yang kupulihkan, Kristus sungguh hadir di tengah-tengah keluargaku, lingkunganku, dan sesame di sekitarku. Amin