Hampir semua manusia di muka bumi ini menghabiskan seumur hidupnya untuk mengejar satu hal yang disebut kebahagiaan. Kita diajarkan sejak kecil bahwa jika kita mendapatkan pekerjaan impian, pasangan yang ideal, rumah yang mewah, atau saldo rekening yang mencukupi, maka otomatis hati kita akan penuh dengan kepuasan. Namun, ironisnya, sering kali setelah semua target itu tercapai, perasaan senang yang muncul hanya bertahan sebentar, lalu menguap begitu saja saat masalah baru datang menghampiri. Kita kembali merasa kosong dan mulai berlari lagi mengejar target berikutnya, terjebak dalam siklus yang melelahkan tanpa pernah benar-benar merasa utuh.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa dunia menawarkan “kebahagiaan”, tetapi Alkitab menawarkan sesuatu yang jauh lebih tinggi dan tahan uji, yaitu “sukacita”. Banyak orang Kristen masih menggunakan kedua kata ini secara bergantian seolah-olah maknanya sama, padahal secara esensi rohani, keduanya bertolak belakang dalam hal sumber dan daya tahannya. Kitab Filipi, sebuah surat yang ditulis oleh Rasul Paulus, menjadi panduan terbaik untuk membedah perbedaan ini karena surat yang paling banyak berbicara tentang sukacita ini justru ditulis bukan dari istana yang nyaman, melainkan dari balik jeruji penjara yang dingin dan gelap.
Sukacita Sejati Tidak Bergantung pada Kondisi Luar Melainkan pada Posisi Kita di Dalam Kristus
Perbedaan mendasar yang diajarkan Paulus adalah bahwa kebahagiaan (happiness) sangat bergantung pada apa yang terjadi (happenings) di sekitar kita, bersifat eksternal dan sementara. Kebahagiaan adalah respons emosional yang wajar ketika situasi berjalan lancar, rezeki lancar, dan tubuh sehat; namun, emosi ini sangat rapuh karena begitu situasi berubah menjadi buruk, kebahagiaan itu ikut lenyap seketika. Sebaliknya, sukacita (joy/chara) adalah kondisi batiniah yang stabil yang bersumber dari dalam, sebuah ketenangan ilahi yang tidak bisa digoyahkan oleh badai kehidupan apa pun karena akarnya tertanam pada kebenaran yang kekal, bukan pada fakta yang sementara.
Dalam surat Filipi, Paulus berulang kali menyerukan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” (Filipi 4:4), sebuah perintah yang terdengar tidak masuk akal jika diukur dengan logika dunia mengingat posisinya yang sedang terancam hukuman mati. Namun, Paulus sedang mengajarkan bahwa sukacita adalah sebuah ketetapan hati yang berfokus pada “SIAPA” yang menyertai kita, bukan “APA” yang sedang menimpa kita. Sukacita Kristen adalah sebuah paradoks ilahi di mana seseorang bisa saja sedang menangis karena penderitaan fisik atau tekanan mental, namun jauh di lubuk hatinya tetap ada damai sejahtera dan keyakinan teguh bahwa Tuhan memegang kendali penuh atas hidupnya.
Lebih jauh lagi, sukacita menurut Kitab Filipi adalah buah dari persekutuan yang intim dengan Kristus, bukan hasil usaha keras memanipulasi perasaan sendiri untuk terlihat positif (toxic positivity). Ketika Paulus berkata “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,” ia sedang menegaskan bahwa sukacita adalah energi supranatural yang Tuhan alirkan kepada orang percaya untuk memampukan mereka bertahan dan tetap bersyukur di tengah situasi yang paling buruk sekalipun. Dunia bisa mengambil harta, kesehatan, atau kebebasan kita sehingga kebahagiaan kita hilang, tetapi dunia tidak akan pernah bisa mengambil Kristus dari hati kita, sehingga sukacita kita tidak akan pernah bisa dicuri oleh siapa pun.
Berhenti sejenak dan evaluasi kembali apa yang sedang Anda kejar hari ini: apakah Anda sedang memburu kebahagiaan yang naik-turun mengikuti arus situasi, atau Anda sedang membangun sukacita yang kokoh? Jangan biarkan keadaan emosi Anda didikte oleh saldo bank, komentar orang lain, atau cuaca hari ini. Mulailah mengalihkan fokus dari masalah yang ada di depan mata kepada Tuhan yang bertahta di atas segalanya, karena di sanalah letak sumber mata air sukacita yang tidak pernah kering.
Mari belajar dari Paulus, yang meskipun tubuhnya dipenjara, tetapi rohnya merdeka dan penuh sorak-sorai. Ambillah keputusan iman hari ini untuk tetap bersukacita, bukan karena hidup sedang baik-baik saja, tetapi karena Tuhan itu baik dan kasih setia-Nya tidak pernah berubah, sebuah alasan yang lebih dari cukup untuk membuat hati kita tenang di segala musim kehidupan.