Dalam tradisi Katolik, membaca Alkitab secara teliti bukan sekadar mencari ayat yang terasa cocok dengan keadaan yang sedang kita alami, tetapi berusaha memahami apa yang sungguh-sungguh ingin disampaikan Allah melalui teks Kitab Suci, dalam konteksnya, dan kemudian membiarkan Sabda itu berbicara kepada kehidupan kita.
Cara membaca Alkitab secara teliti dapat dengan:
- Berdoa sebelum membaca untuk apa yang Tuhan ingin saya dengarkan.
- Baca teksnya 2-3 kali. Jangan langsung menggunakan komentar atau tafsir. Pada pembacaan pertama, cukup pahami apa yang terjadi. Pada pembacaan kedua, perhatikan:
-
- siapa yang berbicara? (Who)
- kepada siapa? (Whom)
- apa yang dilakukan? (What)
- kapan? (When)
- di mana? (Where)
- apa yang berubah? (Why)
- kata atau tindakan apa yang diulang? (How)
Pada pembacaan ketiga, perhatikan hal-hal yang tampaknya kecil. Buatlah pertanyaan untuk lebih meneliti kondisi dari bacaan.
Contohnya:
“Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu…”
Pertanyaan: Mengapa Yesus menyuruh mereka pergi terlebih dahulu?
“Ia naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri.”
Pertanyaan: Mengapa Matius memasukkan detail bahwa Yesus berdoa sendirian?
Dengan cara ini kita mulai membaca secara teliti, bukan sekadar membaca cepat.
- Perhatikan konteks
Ini salah satu bagian yang sangat penting dalam membaca Alkitab Katolik.
Tanyakan:
Apa yang terjadi sebelumnya?
Misalnya Matius 14:22–33 terjadi setelah mukjizat lima roti dan dua ikan.
Jadi jangan membaca kisah berjalan di atas air sebagai cerita yang berdiri sendiri.
Apa yang terjadi sesudahnya?
Lihat bagaimana kisah tersebut berlanjut.
Apa konteks keseluruhan Injil?
Tanyakan:
Apa yang sedang ingin ditunjukkan Matius tentang Yesus?
Dalam Injil, mukjizat bukan hanya kejadian ajaib. Mukjizat sering berfungsi sebagai tanda yang mengungkapkan siapa Yesus.
- Perhatikan kata-kata kunci
Ambil kata yang penting dan jangan buru-buru melewatinya.
Contoh:
“Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Kemudian:
“Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”
Kemudian:
“Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”
Kemudian:
“Sungguh, Engkau Anak Allah!”
Perhatikan perkembangan cerita:
takut → percaya → bimbang → diselamatkan → pengakuan iman
Di sini kita mulai menemukan pesan teologis teks.
- Bedakan: apa yang dikatakan teks dan apa yang saya pikirkan
Ini sangat penting.
Misalnya:
“Petrus mulai tenggelam karena kurang iman.”
Itu sudah merupakan interpretasi.
Pertanyaan berikutnya:
Apakah teks mengatakan hal tersebut secara eksplisit?
Matius mengatakan:
“Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”
Jadi kita memiliki dasar tekstual.
Tetapi jangan kemudian langsung mengatakan:
“Kalau seseorang punya iman kuat, dia tidak akan pernah mengalami masalah.”
Itu sudah merupakan kesimpulan yang jauh lebih luas daripada teks.
Inilah yang disebut membaca secara disiplin.
- Baca bersama iman Gereja Katolik
Di sinilah pendekatan Katolik mempunyai kekhasan.
Gereja tidak membaca Kitab Suci secara terpisah dari Tradisi Suci dan Magisterium.
Secara sederhana:
Kitab Suci + Tradisi Suci + Magisterium
bukan tiga sumber yang saling bersaing, melainkan ketiganya berkaitan dalam menjaga dan meneruskan iman Gereja.
Karena itu, setelah memahami teks, kita dapat bertanya:
Bagaimana Gereja memahami teks ini?
Misalnya dengan melihat:
-
- Katekismus Gereja Katolik
- dokumen Gereja
- tulisan para Bapa Gereja
- komentar Kitab Suci Katolik
- homili atau refleksi para santo
- liturgi Gereja
Ini membantu kita menghindari interpretasi yang terlalu pribadi.
- Baru kemudian tanyakan: “Apa yang Tuhan minta dari saya?”
Setelah memahami teks, masuklah ke tahap doa.
Bukan:
“Apa yang saya ingin dengar dari ayat ini?”
Tetapi:
“Setelah memahami Sabda ini, bagaimana saya harus hidup?”
Misalnya dari Matius 14:22–33:
Teks:
Petrus berjalan menuju Yesus tetapi mulai tenggelam karena takut.
Renungan:
Saya juga sering berani ketika melihat Yesus, tetapi menjadi takut ketika melihat “angin dan gelombang” kehidupan.
Doa:
“Tuhan, ketika imanku goyah, jangan biarkan aku menjauh dari-Mu.”
Tindakan:
Hari ini saya menghadapi satu persoalan dengan lebih percaya kepada Tuhan daripada kepada ketakutan saya.
Contoh membaca satu ayat secara teliti
Ambil:
“Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Matius 14:31
Jangan langsung membuat renungan.
Langkah 1 — Observasi
| Siapa yang berbicara? | Yesus. |
| Kepada siapa? | Petrus. |
| Kapan? | Ketika Petrus mulai tenggelam. |
| Mengapa? | Karena Petrus takut/bimbang. |
Langkah 2 — Konteks
Petrus sebenarnya sudah memiliki keberanian.
Dia bahkan turun dari perahu.
Jadi masalah Petrus bukan tidak memiliki iman sama sekali.
Ada sesuatu yang lebih menarik:
Imannya ada, tetapi imannya goyah ketika menghadapi badai.
Langkah 3 — Hubungkan dengan keseluruhan teks
Perhatikan bahwa Petrus:
melihat Yesus → berjalan → melihat angin → takut → tenggelam → berseru → diselamatkan.
Ini memberikan struktur yang sangat kuat.
Langkah 4 — Makna iman
Iman Kristen bukan berarti:
“Saya tidak akan pernah takut.”
Tetapi:
Dalam ketakutan, saya tetap mengarahkan diri kepada Kristus.
Karena ketika Petrus berseru:
“Tuhan, tolonglah aku!”
Yesus segera mengulurkan tangan.
Langkah 5 — Doa
Yesus, sering kali aku mulai berjalan dengan percaya kepada-Mu, tetapi ketika masalah datang, aku lebih memperhatikan masalah daripada Engkau. Peganglah tanganku ketika imanku mulai tenggelam.
Barulah kita masuk ke pengalaman pribadi.
Tiga kesalahan yang perlu dihindari
- Proof-texting
Mengambil satu ayat untuk membenarkan pendapat sendiri.
Contoh:
“Mintalah apa saja, pasti diberikan.”
Lalu mengabaikan konteks keseluruhan Kitab Suci mengenai doa.
- Menganggap semua ayat harus dibaca secara harfiah
Kitab Suci mempunyai berbagai bentuk sastra:
-
- sejarah
- puisi
- mazmur
- hikmat
- nubuat
- Injil
- surat
- apokaliptik
- perumpamaan
Mazmur menggunakan bahasa puitis.
Misalnya:
“Tuhan adalah gunung batuku.”
Bukan berarti Allah secara fisik adalah batu.
- Membaca Alkitab hanya untuk mencari jawaban pribadi
Ini sangat umum.
Kita membaca:
“Apa pesan Tuhan untuk saya hari ini?”
tetapi lupa bertanya:
“Apa arti teks ini dalam konteks aslinya?”
Urutannya lebih sehat:
Apa yang dikatakan teks → apa maksudnya → bagaimana Gereja memahaminya → apa yang Tuhan katakan kepada saya → bagaimana saya melaksanakannya.