Kerusakan lingkungan dan perubahan iklim yang semakin terasa saat ini bukan lagi sekadar isu global, melainkan tanggung jawab moral yang harus dihadapi oleh setiap individu, termasuk umat beriman. Alkitab mengajarkan bahwa manusia ditempatkan di dunia bukan untuk mengeksploitasi alam semena-mena, melainkan untuk mengusahakan dan memelihara taman yang telah Tuhan percayakan. Ketika lingkungan di sekitar kita mulai kehilangan asrinya akibat polusi dan pengundulan lahan, itu adalah panggilan bagi kita untuk kembali menjalankan mandat sebagai penatalayan bumi yang bertanggung jawab demi keberlangsungan generasi mendatang.
Sebagai langkah nyata dalam melestarikan ciptaan, komunitas Joy of Discovery menggelar aksi bakti sosial lingkungan bertajuk “Green Faith” yang berlokasi di area resapan air pinggiran kota yang mulai gersang. Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk ibadah yang praktis, di mana iman tidak hanya diungkapkan melalui doa di dalam ruangan, tetapi juga melalui tetesan keringat saat menanam bibit pohon di atas tanah yang membutuhkan pemulihan. Kami percaya bahwa setiap bibit yang tertanam adalah simbol pengharapan dan bukti bahwa kasih Tuhan juga mencakup pemulihan bagi alam semesta yang kita tinggali ini.
Aksi bakti sosial ini dimulai dengan penanaman secara simbolis ratusan bibit pohon pelindung dan produktif, seperti mahoni, trembesi, dan bibit buah-buahan yang disesuaikan dengan kondisi tanah setempat. Para relawan, mulai dari anak-anak hingga lansia, bahu-membahu menggali lubang dan memastikan setiap bibit tertanam dengan baik, diiringi dengan edukasi singkat mengenai pentingnya pohon sebagai penyerap karbon dan penjaga ketersediaan air tanah. Selain menanam pohon, tim juga melakukan aksi pembersihan sampah plastik di sepanjang bantaran sungai terdekat yang selama ini menyumbat aliran air, guna mencegah potensi banjir saat musim penghujan tiba di kawasan tersebut.
Keterlibatan warga lokal dalam aksi ini memberikan warna tersendiri, di mana tercipta kolaborasi harmonis antara komunitas iman dan masyarakat umum untuk menjaga “paru-paru” lingkungan mereka sendiri. Sambil bekerja, para relawan juga membagikan tempat sampah pilah kepada warga sekitar sebagai sarana edukasi agar kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dapat terus berlanjut bahkan setelah acara berakhir. Melihat lahan yang tadinya gersang kini mulai dipenuhi bibit-bibit hijau memberikan kepuasan batin tersendiri bagi seluruh peserta, menyadari bahwa tindakan kecil yang dilakukan bersama-sama dapat membawa perubahan besar bagi ekosistem lokal yang lebih sehat.
Kegiatan bakti lingkungan ini diakhiri dengan doa syukur atas alam semesta dan komitmen untuk melakukan pemantauan rutin terhadap pertumbuhan bibit-bibit yang telah ditanam. Kami berharap aksi ini dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk menyadari bahwa mencintai Tuhan berarti juga menghargai dan merawat rumah besar yang telah Ia sediakan bagi kita semua. Mari kita terus bergerak, tidak hanya menjadi penikmat keindahan alam, tetapi juga menjadi pelindung yang setia, karena bumi yang sehat adalah warisan terbaik yang bisa kita berikan kepada anak cucu kita sebagai wujud nyata kasih karunia Tuhan.