Dalam perjalanan kehidupan rohani, hampir setiap orang percaya pernah mengalami masa-masa “padang gurun” di mana langit terasa tertutup tembaga dan Tuhan seolah-olah menyembunyikan wajah-Nya. Pada momen-momen kelam seperti ini, doa-doa yang kita panjatkan terasa hanya memantul di langit-langit kamar, dan pembacaan Alkitab yang biasanya menyegarkan tiba-tiba terasa kering tanpa makna. Perasaan ditinggalkan ini sering kali membawa kebingungan, kesepian, dan pertanyaan-pertanyaan menyakitkan tentang apakah kita telah melakukan kesalahan fatal atau apakah Tuhan benar-benar peduli pada pergumulan yang sedang kita hadapi sendirian.
Namun, penting untuk kita pahami bahwa perasaan “jauh” dari Tuhan tidak selalu menjadi indikator bahwa Dia benar-benar telah meninggalkan kita atau sedang marah kepada kita. Sering kali, keheningan Tuhan adalah sebuah undangan tersembunyi untuk membawa iman kita naik ke level yang lebih dalam, dari iman yang hanya berdasarkan penglihatan dan perasaan menjadi iman yang murni berdasarkan kepercayaan penuh pada karakter-Nya. Tantangan terbesar di fase ini bukanlah bagaimana cara memaksa Tuhan untuk segera “berbicara” kembali, melainkan bagaimana kita bisa tetap setia berdiri teguh memegang janji-Nya meskipun situasi di sekeliling kita dan gejolak emosi di dalam hati meneriakkan hal yang sebaliknya.
Menemukan Kekuatan dalam Kebenaran yang Tidak Berubah di Tengah Emosi yang Berubah-ubah
Kunci pertama untuk bertahan adalah menyadari bahwa iman bukanlah sebuah perasaan emosional, melainkan sebuah keputusan dan keyakinan yang berakar pada kebenaran objektif firman Tuhan. Emosi manusia sangat fluktuatif, dipengaruhi oleh kondisi fisik, hormon, maupun keadaan lingkungan, sehingga tidak bisa dijadikan kompas kebenaran yang akurat. Ketika perasaan kita mengatakan Tuhan itu jauh, kita harus melawannya dengan fakta iman bahwa Tuhan adalah Immanuel yang berjanji tidak akan pernah membiarkan dan meninggalkan kita, sebuah janji yang validitasnya tidak bergantung pada mood kita hari ini melainkan pada kesetiaan Tuhan yang kekal.
Langkah praktis selanjutnya adalah tetap mempertahankan disiplin rohani seperti berdoa, membaca firman, dan beribadah, meskipun kita tidak “merasakan” getaran spiritual apa pun saat melakukannya. Inilah yang disebut sebagai “korban syukur”, yaitu ketika kita memilih untuk tetap memuliakan Tuhan bukan karena kita sedang merasa senang, tetapi karena Dia layak dipuji terlepas dari apa pun musim kehidupan kita. Justru di masa-masa kering inilah otot iman kita sedang dilatih dengan keras; ketaatan yang kita lakukan saat Tuhan terasa diam sering kali memiliki nilai yang jauh lebih berharga di mata Tuhan dibandingkan ketaatan yang dilakukan saat segala sesuatunya berjalan lancar dan penuh berkat.
Selain itu, cobalah untuk melihat masa keheningan ini sebagai proses pemurnian motivasi hati kita dalam mengikut Dia. Sering kali Tuhan mengizinkan kita melewati masa sepi untuk menguji hati kita: apakah kita mengasihi Tuhan karena pribadi-Nya, atau hanya karena berkat dan perasaan nyaman yang Dia berikan? Ketika “permen” rohani berupa perasaan sukacita meluap-luap itu diambil sementara, kita diajar untuk bertumbuh menjadi dewasa, belajar mencintai Sang Pemberi Berkat lebih dari sekadar menikmati pemberian-Nya, dan membangun fondasi yang tidak akan goyah oleh badai emosi apa pun di masa depan.
Ingatlah bahwa tokoh-tokoh besar dalam Alkitab seperti Daud, Ayub, bahkan Tuhan Yesus sendiri di kayu salib, pernah merasakan momen keterasingan dan kesunyian yang mencekam. Anda tidak sedang berjalan sendirian di jalan sunyi ini; banyak orang kudus telah melewatinya dan keluar sebagai pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih indah karakternya. Masa “padang gurun” ini pasti memiliki ujung, dan Tuhan sedang merenda sesuatu yang indah di balik layar yang mungkin belum bisa Anda lihat sekarang.
Tetaplah melangkah maju dengan iman, selangkah demi selangkah, meskipun dalam kegelapan dan tanpa kepastian yang jelas. Percayalah bahwa fajar pasti akan menyingsing, dan ketika masa ujian ini berakhir, Anda akan melihat bahwa Tuhan sebenarnya selalu ada di sana, menopang Anda dalam keheningan-Nya yang penuh kasih, menjadikan iman Anda murni seperti emas yang teruji api.