
Saya yakin dari kita semua pasti kenal nama Bunda Teresa dari Kalkuta. Suatu hari saya membaca sebuah artikel, mengenai Bunda Teresa dari Kalkuta.
Seorang wartawan pernah bertanya kepada Bunda Teresa dari Kalkuta, mengapa ia mau menghabiskan hidupnya melayani orang-orang miskin, sakit, dan sekarat – orang-orang yang sering kali bahkan tidak memiliki siapa pun untuk memperhatikan mereka.
Bunda Teresa tidak menjelaskan dengan teori. Ia mengatakan, setiap manusia yang ia jumpai adalah pribadi yang dikasihi Allah.
Bagi Bunda Teresa, melayani orang miskin bukan sekadar pekerjaan sosial. Ia ingin menghadirkan kasih Allah melalui kehadirannya. Ia menyentuh mereka, merawat mereka, mendengarkan mereka, dan membuat mereka merasakan bahwa mereka masih berharga.
Bukankah sering kali yang paling dibutuhkan seseorang bukanlah jawaban atas semua masalahnya, melainkan seseorang yang hadir dan berkata melalui tindakannya: “Engkau tidak sendirian. Engkau tetap berharga dan dikasihi.”
Hari ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Kita mengimani satu Allah dalam tiga Pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Misteri ini memang melampaui kemampuan akal manusia untuk memahaminya secara sempurna. Tetapi melalui Sabda Tuhan hari ini, kita dapat mengenal satu hal yang sangat jelas: Allah adalah kasih yang hadir dan memberikan diri-Nya bagi manusia.
Dalam bacaan pertama, Musa berhadapan dengan Allah yang menyatakan diri sebagai Tuhan yang penuh kasih dan belas kasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia dan kesetiaan. Musa memohon agar Tuhan berjalan di tengah-tengah umat-Nya, “Tuhan, berjalanlah di tengah-tengah kami.”
Musa tidak meminta Allah hanya tinggal jauh di atas sana. Ia memohon agar Allah hadir dan berjalan bersama umat-Nya. Dan itulah yang dilakukan Allah.
Mazmur tanggapan dari Daniel mengajak kita menjawab kehadiran Allah itu dengan pujian: “Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami…”
Pujian bukan sekadar kata-kata. Pujian lahir dari hati yang menyadari bahwa hidup kita tidak pernah berada di luar perhatian Allah.
Santo Paulus dalam bacaan kedua memberikan berkat yang sering kita dengar:
“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.”
Ada kasih Allah Bapa.
Ada kasih karunia Kristus.
Ada persekutuan Roh Kudus.
Bacaan Injil hari ini secara jelas menyatakan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…”
Allah tidak hanya mengatakan bahwa Ia mengasihi manusia. Allah memberikan Putra-Nya untuk keselamatan manusia.
Di sinilah kita melihat hubungan yang indah antara semua bacaan hari ini.
Allah yang menyatakan diri kepada Musa adalah Allah yang mengasihi.
Allah yang dipuji Daniel adalah Allah yang hadir.
Allah yang diberitakan Paulus adalah Allah Tritunggal yang menyertai.
Dan Allah yang diwartakan Yesus adalah Allah yang begitu mengasihi dunia sehingga memberikan Putra-Nya.
Maka, Hari Raya Tritunggal Mahakudus bukan hanya mengajak kita bertanya, “Apakah saya memahami misteri Tritunggal?”
Pertanyaan refleksi bagi saya:
“Apakah kasih Allah Tritunggal sungguh tampak dalam hidup saya?”
Bunda Teresa memberi kita contoh sederhana. Ia tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan kemiskinan dunia. Ia tidak mampu menyembuhkan semua orang sakit. Tetapi ia dapat hadir, mengulurkan tangan, merawat, mendengarkan dan Bunda Teresa dapat membuat seseorang yang terlupakan merasa dikasihi.
Pesan Tuhan hari ini untuk saya:
Tuhan mengingatkan saya bahwa saya tidak pernah sendirian. Saya dipanggil untuk mengalami kasih Bapa, mengikuti kasih Kristus, dan membuka hati bagi Roh Kudus. Karena Allah selalu hadir dan mengasihi saya, saya pun dipanggil menghadirkan kasih-Nya melalui hidup saya. Saya tidak harus menyelesaikan semua persoalan orang lain; saya cukup hadir, mendengarkan, menguatkan, mengampuni, dan melayani dengan tulus. Hari ini Tuhan bertanya kepada saya: “Apakah kasih-Ku sungguh tampak melalui hidupmu?” Semoga melalui perkataan dan tindakan saya, keluarga, sahabat, dan mereka yang saya jumpai dapat merasakan bahwa mereka berharga, dikasihi, dan tidak pernah sendirian.
Kita pun mungkin tidak mampu menyelesaikan semua persoalan yang ada dalam keluarga kita. Kita tidak dapat mengubah semua orang di sekitar kita. Tetapi kita bisa menghadirkan kasih Allah melalui hal-hal sederhana.
Sebab kasih Allah tidak hanya tinggal di dalam doa dan kata-kata. Kasih Allah menjadi nyata ketika kita menghadirkan-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap kali kita mengampuni, Allah hadir.
Marilah berdoa.
Allah Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur karena Engkau tidak pernah meninggalkan kami. Melalui Yesus Kristus, Putra-Mu, Engkau menunjukkan betapa besar kasih-Mu kepada kami, dan melalui Roh Kudus, Engkau senantiasa menyertai serta menguatkan kami. Jadikanlah kami pribadi yang mampu hadir bagi mereka yang kesepian, menguatkan mereka yang lemah, mengampuni mereka yang bersalah, dan melayani mereka yang membutuhkan. Semoga melalui hidup kami, semakin banyak orang merasakan bahwa mereka dikasihi dan tidak pernah sendirian. Amin.