Renungan Harian

07 Juni

07 Juni

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

“Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” (Yohanes 6:53)

Ul. 8:2-3,14b-16a; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58. (PB TB2)

Penulis: Michael Indra W.

Akulah Roti Hidup
Yohanes 6:51–58

Yohanes 6:51-58 merupakan bagian yang sangat penting dalam Injil Yohanes karena Yesus membawa pembicaraan tentang “Roti Hidup” kepada pengertian yang semakin mendalam: bukan hanya makanan yang mengenyangkan tubuh, tetapi diri-Nya sendiri yang diberikan bagi kehidupan dunia.

Dalam bagian sebelumnya, Yesus telah menyatakan: “Akulah roti hidup.”, dan semakin jelas dibahas pada perikop ini bahwa Yesus mengatakan bahwa Ia adalah roti hidup yang turun dari surga dan bahwa orang yang makan roti ini akan hidup selama-lamanya.

Orang-orang Yahudi kemudian bertengkar dan bertanya bagaimana mungkin Yesus memberikan daging-Nya untuk dimakan, setelah mendengar perkataan Yesus:

“Roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Yesus tidak menarik kembali perkataan-Nya, sekalipun terdapat keberatan dari mereka, justru Dia nampaknya semakin mempunyai kesempatan untuk menegaskan:

“Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.”

Dari penghayatan pada konteks langsung: Yesus dan roti kehidupan, Sang Guru sebenarnya sudah memberikan suatu tanda dengan memberi makan lima ribu orang, dan di situ orang banyak melihat mukjizat itu dan kemudian mencari Yesus, mereka masih berpikir terutama tentang roti sebagai makanan jasmani.

Yesus kemudian mengarahkan mereka kepada sesuatu yang lebih dalam, agar hendaknya mereka tidak hanya mencari makanan yang dapat membuat tubuh kenyang, tetapi carilah makanan yang memberikan kehidupan kekal.

Dari sinilah muncul rangkaian pengajaran Yesus tentang roti dari surga, menjadi roti kehidupan, yang merupakan tubuh Yesus sendiri, dengan pemberian diri-Nya seutuhanya untuk menuju kehidupan kekal.

Pada konteks Perjanjian Lama, ada perkataan tentang roti dari surga yang mengingatkan orang Yahudi kepada manna yang diberikan Allah kepada bangsa Israel ketika mereka berada di padang gurun.

Sehingga Yesus merasa perlu membuat perbandingan penting: manna memang diberikan Allah kepada nenek moyang mereka, tetapi mereka akhirnya tetap mati, sedangkan Yesus adalah Roti Hidup yang memberikan kehidupan kekal.

Jadi Yesus bukan sekadar mengulangi mukjizat manna, namun yang lebih penting Ia menyatakan bahwa diri-Nya sendiri adalah pemberian Allah yang membawa manusia kepada kehidupan yang kekal.

Selanjutnya bagian yang masih sulit dipahami mereka adalah Ketika Yesus mengatakan “Makanlah daging-Ku dan minumlah darah-Ku”, langsung para pendengar-Nya mengalami ketersinggungan akan kehidupan Yahudi lebih mendalam.

Karena bagi orang Yahudi, darah mempunyai makna yang sangat sakral, darah berhubungan dengan kehidupan dan tidak boleh diperlakukan sembarangan, sehingga perkataan-Nya terdengar sangat mengejutkan dan bahkan sulit diterima.

Apa yang bisa kita maknai dari tradisi iman Katolik, bagian ini mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan Ekaristi, bahwa Yesus bukan hanya berkata:
“Percayalah kepada-Ku”, Ia menyatakan bahwa Ia memberikan diri-Nya sendiri bagi kehidupan dunia.

Karena itu, dalam Ekaristi, umat Katolik percaya bahwa Kristus sungguh hadir dan memberikan diri-Nya sebagai makanan rohani, dan “makan” dan “minum” dalam perikop ini tidak boleh dipahami hanya sebagai kegiatan makan dan minum secara jasmani.

Makna yang terpenting bagi kita di sini adalah adalah menerima Kristus seutuhnya, bersatu dengan Kristus, hidup dari Kristus, dan membiarkan kehidupan Kristus menjadi kehidupan kita.

Pesan Tuhan hari ini adalah membawa kita untuk semakin memahami bahwa Yesus adalah Roti Hidup yang memberikan diri-Nya bagi kehidupan dunia, siapa yang menerima dan hidup dalam Dia memperoleh kehidupan kekal serta dipanggil untuk menghadirkan kehidupan Kristus dalam kehidupannya sehari-hari.

Ya Tuhan Yesus, sungguh Engkaulah adalah Roti Hidup bagi kami, karena itu kami siap dengan sungguh menerima-Mu dipanggil untuk hidup dalam kasih dan belajar memberikan dirinya bagi kehidupan sesama.

Biarlah kami semakin cerdas iman untuk menerima Tubuh-Mu dalam Perayaaan Ekaristi , sekaligus kami belajar untuk terus menjadi pribadi yang mampu memberikan diri kami kepada-Mu dengan segala apa adanya yang kami punya dan lakukan. Amin

Renungan Lainnya

30 Agustus

30 Agustus

Yer. 20:7-9; Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9; Rm. 12:1-2; Mat. 16:21-27.

Pikiran Allah vs Pikiran Manusia
Matius 16:21-27

Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, ”Enyahlah, Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Matius 16:23).

23 Agustus

23 Agustus

Yes. 22:19-23; Mzm. 138:1-2a,2bc-3,6,8bc; Rm. 11:33-36; Mat. 16:13-20. (PB TB2)

Gereja yang didirikan Yesus Kristus
Mat 16:13-20

18 Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa pun yang kauikat di bumi akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di bumi akan terlepas di surga.”

09 Agustus

09 Agustus

1Raj 19:9a.11–13a; Mzm 85:9ab-10.11-12.13-14; Rm 9:1-5; Mat 14:22–33

Tangan Yang Mendesak, Tangan Yang Memegang: Mengenali Kristus sebelum angin reda.
Matius 14:22–33

Angin baru reda sesudah Yesus naik ke perahu, bukan sebelumnya — sebab iman bukan menunggu keadaan membaik, melainkan mengenali Kristus yang datang dan memegang kita justru di tengah badai.

“Tenanglah! Ini Aku, jangan takut!”

Matius 14:27