
Peristiwa Pembaptisan Yesus di Sungai Yordan merupakan momen epifani yang menyingkapkan identitas mesianis Yesus sekaligus mengawali karya publik-Nya. Meskipun tanpa dosa, Yesus memilih untuk masuk ke dalam barisan orang berdosa yang datang kepada Yohanes untuk menerima baptisan pertobatan. Tindakan ini bukan karena Ia memerlukan pertobatan, melainkan sebagai ekspresi ketaatan penuh kepada kehendak Bapa. Pernyataan-Nya, “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat 3:15), menunjukkan bahwa Ia menerima secara total rencana keselamatan Allah dan menghidupinya dalam solidaritas nyata dengan manusia yang rapuh.
Dalam terang iman Gereja, peristiwa ini dapat direnungkan dalam tiga dimensi. Pertama, Baptisan Yesus menampakkan kerendahan hati dan solidaritas ilahi dengan umat manusia. Yohanes awalnya menolak untuk membaptis Yesus karena merasa tidak layak. Ini adalah misteri yang tampak paradoksal: Sang Kudus justru datang menerima baptisan pertobatan. Namun, Yesus tidak mengambil jarak dari manusia yang berdosa. Ia memasuki sepenuhnya kondisi manusia, meskipun Ia sendiri tidak berdosa. Baptisan yang diterima-Nya bukan sekadar simbol, tetapi pernyataan mendalam tentang identitas-Nya sebagai Hamba yang taat dan Putra yang menyerahkan diri bagi keselamatan manusia. Solidaritas ini mencapai puncaknya dalam misteri Paskah. Karena itu Gereja memandang Pembaptisan Tuhan sebagai awal nyata perjalanan Yesus menuju sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya (KGK 536).
Kedua, Baptisan Yesus merupakan epifani Tritunggal Mahakudus. Sesudah Yesus dibaptis, langit terbuka, Roh turun seperti merpati, dan suara Bapa terdengar: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:16–17). Dalam momen ini, Bapa bersabda, Putra berdiri dalam kerendahan hati sebagai yang dibaptis, dan Roh Kudus turun serta tinggal di atas-Nya. Gereja melihat peristiwa ini sebagai penyingkapan mendalam mengenai identitas Yesus dan relasi-Nya yang kekal dengan Bapa di dalam Roh Kudus. Baptisan ini memanifestasikan Yesus sebagai Mesias Israel yang diurapi Roh dan Putra Allah (KGK 535–536). Sejak awal, karya keselamatan tampak sebagai karya kasih Tritunggal: Bapa menyelamatkan melalui Putra dalam kuasa Roh.
Ketiga, sabda Bapa yang menyatakan Yesus sebagai Anak yang terkasih menjadi pondasi identitas dan perutusan-Nya. Pernyataan surgawi ini menggemakan tradisi Perjanjian Lama tentang Raja Mesias (Mzm 2:7) dan nubuat Hamba Tuhan yang menderita (Yes 42:1). Gereja mengajarkan bahwa Yesus adalah Anak yang dikasihi Bapa; dalam Dia, Bapa berkenan sepenuhnya (KGK 444). Identitas ini juga menjelaskan cara Yesus menjalankan perutusan-Nya: bukan melalui dominasi, tetapi melalui pelayanan, ketaatan, dan kasih sampai akhir. Dengan demikian Baptisan Yesus menjadi paradigma bagi murid-murid-Nya sepanjang zaman.
Apa yang terjadi pada Yesus di Sungai Yordan juga menerangi martabat baptisan kita. Melalui baptisan, kita dipersatukan dengan Kristus, menerima Roh Kudus, dan diangkat sebagai anak-anak Allah (KGK 537; 1223–1224). Sabda Bapa kepada Yesus kini bergema dalam diri kita melalui rahmat, “Engkau berharga. Engkau Kukasihi.”
Dari ketiga dimensi ini, tampak bahwa keselamatan berakar pada kasih Bapa, dihayati dalam ketaatan Putra, dan dijalani dalam Roh Kudus. Ini adalah undangan untuk menghidupi identitas kita sebagai anak-anak Allah—hidup dalam kasih, berjalan bersama Roh Kudus, dan menghadirkan kebaikan di mana pun kita berada. Kita diutus bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kita dikasihi. Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
Pertanyaan Reflektif:
Bagaimana kita sungguh menghayati identitas baptisan kita sebagai “anak-anak yang dikasihi Allah” dalam keseharian? Sejauh mana kasih Allah yang lebih dahulu mengasihi kita menjadi dasar kita memandang diri, mengambil keputusan, serta menapaki perjalanan hidup setiap hari?
Doa
Ya Bapa yang Mahakasih, ajarlah kami menghayati identitas baptisan kami sebagai anak-anak yang Engkau kasihi, dengan hidup berakar pada kasih-Mu, setia mengikuti Putra-Mu, dan terbuka pada tuntunan Roh Kudus.
Utuslah kami untuk menghadirkan kasih-Mu dalam setiap langkah hidup kami, hari demi hari.