Sering kali kita tidak menyadari betapa besarnya dampak dari satu kalimat pendek yang keluar dari mulut kita. Kata-kata yang kita ucapkan memiliki kekuatan untuk membangun semangat seseorang yang sedang terpuruk, namun di saat yang sama juga memiliki ketajaman untuk menghancurkan harga diri orang lain dalam sekejap. Kita mungkin menganggap kritikan pedas atau gosip kecil sebagai hal yang biasa, padahal bagi orang yang mendengarnya, kata-kata tersebut bisa menjadi luka batin yang membekas selama bertahun-tahun.
Alkitab memberikan gambaran yang sangat kuat bahwa lidah, meskipun merupakan anggota tubuh yang kecil, memiliki pengaruh yang sangat besar seperti kemudi pada kapal besar atau api kecil yang bisa menghanguskan hutan. Hidup dan mati dikuasai oleh lidah; ini berarti setiap kata yang kita lepaskan sebenarnya sedang menabur benih, entah itu benih kehidupan atau benih kehancuran. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk memiliki standar bicara yang berbeda, di mana setiap kata yang keluar dari mulut kita seharusnya sudah melalui filter kasih dan kebenaran.
Menjaga lidah bukan berarti kita tidak boleh menegur atau berbicara jujur, melainkan tentang bagaimana kita menyampaikan kebenaran itu dengan motivasi untuk membangun, bukan menjatuhkan. Kata-kata yang penuh anugerah dan sedap didengar bukan berarti kata-kata yang penuh basa-basi, tetapi kata-kata yang lahir dari hati yang telah diubahkan oleh Tuhan. Saat kita memilih untuk tetap berkata baik meskipun kita sedang dikritik atau disakiti, kita sebenarnya sedang menunjukkan kedewasaan rohani dan membiarkan karakter Kristus terpancar melalui ucapan kita.
Cobalah untuk merenungkan kembali pembicaraan Anda sepanjang hari ini—apakah lebih banyak keluhan, amarah, dan penghakiman, atau lebih banyak kata syukur dan penguatan bagi orang lain? Mintalah bantuan Roh Kudus untuk menjaga pintu bibir Anda agar tidak ada perkataan kotor atau sia-sia yang keluar. Jadikanlah ucapan Anda sebagai “obat” bagi mereka yang sedang terluka dan sebagai terang di tengah kegelapan, karena melalui cara kita berbicaraanlah orang lain bisa merasakan kasih Tuhan yang nyata.