Sangat mudah bagi kita untuk mengucap syukur saat segala sesuatunya berjalan sesuai rencana—ketika kesehatan prima, tagihan terbayar tepat waktu, dan keluarga hidup rukun. Namun, tantangan sesungguhnya muncul ketika situasi berbalik arah menjadi sulit dan tidak menentu. Kita sering kali berpikir bahwa syukur adalah hasil dari keadaan yang baik, padahal dalam perspektif iman, syukur justru merupakan kunci untuk menjaga hati tetap stabil di tengah keadaan yang paling buruk sekalipun. Tanpa rasa syukur, kita akan selalu merasa kekurangan dan fokus pada apa yang hilang, hingga kita lupa menghargai apa yang masih kita miliki.
Alkitab memberikan perintah yang cukup ekstrem: mengucap syukurlah dalam segala hal. Ini bukan berarti kita harus mensyukuri rasa sakit atau penderitaan itu sendiri, melainkan kita bersyukur karena di tengah situasi tersebut, Tuhan tetap baik, tetap berdaulat, dan tetap menyertai kita. Syukur adalah sebuah tindakan perlawanan terhadap keputusasaan; ia memaksa mata rohani kita untuk berhenti memandangi masalah dan mulai memandangi kesetiaan Tuhan yang sudah teruji di masa lalu. Saat kita mulai bersyukur dalam tekanan, atmosfer batin kita berubah dari keluhan menjadi kekuatan.
Mengucap syukur juga merupakan bentuk pengakuan bahwa kita percaya pada rencana Tuhan yang lebih besar, bahkan ketika kita tidak memahaminya. Ketika kita memilih untuk bersyukur di tengah kegelapan, kita sebenarnya sedang mendeklarasikan bahwa sukacita kita tidak ditentukan oleh dunia ini. Hati yang bersyukur adalah magnet bagi damai sejahtera Allah; ia menjaga pikiran kita tetap jernih dan mencegah kepahitan meracuni jiwa kita. Syukur mengubah apa yang kita miliki menjadi “cukup”, dan mengubah masalah menjadi kesempatan untuk melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan secara ajaib.
Cobalah untuk memulai hari ini bukan dengan daftar permintaan, tetapi dengan daftar ucapan syukur. Sebutkan satu per satu kebaikan Tuhan yang sering kita anggap remeh, seperti napas kehidupan, kehadiran orang terkasih, atau kekuatan untuk melewati hari kemarin. Biarkan syukur menjadi “napas” kehidupan rohani Anda yang baru. Dengan menjadikan syukur sebagai gaya hidup, Anda akan menemukan bahwa tidak ada badai yang cukup besar untuk mencuri kedamaian batin Anda, karena Anda tahu bahwa di tangan Tuhan, segala sesuatu pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan.